Menekan Mortalitas Pada Segmen Pembibitan Gurame

Monday, January 12th, 2015 - Uncategorized

Periode pembibitan biasanya merupakan segmen yang paling dihindari para peternak Ikan Gurame. Bagaimana tidak? pada segmen inilah paling tidak kesabaran peternak harus diuji melihat banyaknya mortalitas atau kematian yang terjadi pada bibit ikan Gurame yang baru dipijahkan. Hal ini sebetulnya tidak mengeherankan mengingat kemampuan adaptasi benih ikan tentunya masih rendah pada lingkungan yang baru.

Bagi para peternak pemula, memulai usaha betul-betul dari segmen pembibitan sebaiknya tidak dilakukan karena tingkat resikonya tinggi. Tetapi bagi para peternak yang sudah berpengalaman, jangan ragu untuk memproduksi sendiri benih. Sebab melalui proses pembenihan inilah Anda aka nmednapatkan benih-benih unggul.

Persoalannya adalah bagaimana cara untuk menekan mortalitas atau angka kematian pada fase benih gurame?

Untuk mendapatkan benih unggul yang kuat, harus dimulai dari indukannya dulu.  Indukan yang digunakan haruslah dari jenis strain unggul. Untuk mengetahuinya dilakukan dengan memeriksa ciri-ciri yang ada. Ikan yang unggul adalah ikan yang fase pertumbuhannya lebih cepat dari lainnya. Sifat unggul juga terlihat dari tingkah laku ikan yang lebih ‘galak’.  Selain itu penting harus bebas penyakit.

Indukan unggul ini kemudian dipelihara di kolam indukan terlebih dahulu sebelum memijah. Pada masa ini ikan diberikan pelet dengan pakan tambahan lainnya, di antaranya kedelai sebanyak tiga kali sehari. Pemijahan akan berlangsung selama satu minggu setelah indukan dipindah ke kolam pemijahan. Pagi harinya setelah pemijahan, hasil reproduksi akan terlihat pada sarang atau substrat yang dipenuhi sel-sel telur. Indukan gurame bisa menghasilkan  kurang lebih 10.000 telur dalam sekali pemijahan.

Telur-telur tersebut kemudian dipindahkan ke dalam akuarium, baskom atau paso untuk mempermudah pengontrolan. Pada tahap ini sesuaikan kapasitas media yang digunakan dengan banyaknya telur. Contohnya, untuk akuarium dengan ukuran 0,5 – 1 m2 dan ketinggian air 20 – 40 cm, padat tebarnya sebanyak 1250 – 1500 telur sedangkan untuk penempatan di wadah baskom dan paso pada ukuran yang sama padat tebarnya sebanyak 1000 – 1250 telur dan 1000 telur.

 

Tahap Pemeliharaan Benih

Perlakuan pada tahap ini akan menentukan tingkat keberhasilan benih untuk bertahan. Suhu di dalam media telur dijaga antara 25 – 28 °C. Jika ada telur yang mati, langsung buang dengan menggunakan sendok agar kadar amonia tidak meracuni air.

Larva akan menetas 5 – 7 haris setelah telur dipindahkan. Perubahannya akan terlihat ketika hari ketiga setelah penetasan. Larva standar berukuran di bawah 1 cm dan bobot kurang dari 0,5 gram. Sangat penting untuk membiarkan Larva tetap berada di akuarium atau media pemeliharaan karena daya tahan tubuhnya masih lemah.

Pada usia 0 -3 hari, larva belum perlu diberi makan karena protein dari telur mereka masih menempel di tubuh. Setelah cadangan makanannya habis, barulah diberi pakan berupa cacing sutera. Pakan cacing sutera diberikan kira-kira sebanyak satu genggaman, dan harus selalu diberikan ketika habis.

Perlakuan terhadap media yang diperlukan adalah penggantian air dan penyifonan. Pergantian air dilakukan dengan menyedot air keluar hingga menyisakan 1/3 bagian pada wadah akuarium, kemudian baru diisi air yang baru. Tahap pemeliharaan larva benih ini akan berlangsung kira-kira hingga 10 -12 hari setelah penetasan, barulah kemudian benih ikan dipindahkan ke kolam pendederan I.

***

 

Menekan Mortalitas Pada Segmen Pembibitan Gurame | majalahpertanian | 4.5